Day 7 KKN kami di Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung dimulai dengan kegiatan yang sangat dekat dengan warga, yaitu posyandu, baru setelah itu kami lanjut bergerak ke rangkaian pendampingan UMKM. Jadi alurnya hari ini jelas: pagi–siang kami fokus dulu pada kegiatan kesehatan masyarakat, lalu setelah kegiatan selesai barulah kami turun ke titik titik usaha untuk mengerjakan output UMKM yang sudah direncanakan.

Pagi itu kami berangkat menuju Posyandu Cempaka 6. Suasananya ramai tapi terasa akrab, karena posyandu memang jadi momen berkumpulnya ibu ibu dan balita di lingkungan. Kami ikut membantu jalannya kegiatan dengan menyesuaikan kebutuhan di lapangan mulai dari membantu proses pendataan, mengarahkan alur agar tidak menumpuk, sampai memastikan kegiatan berjalan tertib. Di posyandu, kami juga melihat langsung bagaimana kegiatan pelayanan dasar ini punya peran penting, terutama untuk pemantauan tumbuh kembang anak dan edukasi kesehatan keluarga. Di momen seperti ini, kami merasa program KKN kami bukan hanya soal progja yang tertulis di kertas, tetapi juga tentang hadir dan membantu sistem sosial yang sudah berjalan di masyarakat.
Selesai kegiatan posyandu, kami kembali merapikan koordinasi dan membagi tugas untuk agenda berikutnya. Baru setelah itu kami masuk ke fokus utama hari ini: pendampingan UMKM. Hari ini kami tidak hanya berkunjung, tapi benar benar membawa target output ada yang kami bantu pembuatan banner, ada yang fokus pembuatan konten, ada yang kami dorong untuk NIB, ada yang perlu Google Maps, dan ada juga yang sampai tahap cetak QRIS. Bergerak dari satu tempat ke tempat lain rasanya melelahkan, tapi justru di situlah kami melihat dampak program UMKM secara nyata.
UMKM pertama yang kami datangi adalah Es Dawet Gula Jawa Legi. Di sini kami fokus membantu pada sisi visual dan informasi usaha melalui pembuatan banner. Kami mencoba menyusun konsep banner yang sederhana tapi jelas: nama usaha mudah dibaca, informasi produk tidak bertele tele, dan tampilannya cukup menarik untuk dilihat orang yang lewat. Selain itu, ada juga pendampingan terkait MPASI, sehingga informasi yang terkait kebutuhan konsumsi bisa lebih tertata dan tidak menimbulkan salah paham. Kami banyak berdiskusi dengan pemilik usaha tentang apa yang paling ingin mereka tonjolkan karena banner yang bagus bukan hanya soal desain, tapi soal pesan yang pas.

Setelah itu kami menuju Pangkas Rambut BABE. Di lokasi ini fokus kami lebih pada legalitas, yaitu pembuatan NIB. Kami membantu menyiapkan data yang dibutuhkan dan menjelaskan alur pendaftaran secara pelan pelan. Kami merasakan bahwa banyak pelaku usaha sebenarnya ingin usahanya tertib, tapi sering ragu memulai karena merasa proses administrasi itu rumit. Maka peran kami di sini adalah membuat prosesnya terasa lebih mudah: satu langkah dulu, lalu lanjut langkah berikutnya.
Perjalanan kami lanjutkan ke Warung Faiz, dengan fokus pembuatan konten. Kami mencoba membuat konten yang realistis yang bisa dipakai pemilik warung untuk promosi sederhana di WhatsApp atau media sosial. Kami mengambil beberapa foto dan video pendek yang menonjolkan produk serta suasana warung. Kami juga memastikan konten yang dibuat tetap jujur dan sesuai kondisi asli, karena promosi yang efektif itu bukan yang lebay, tapi yang membuat orang percaya dan tertarik mencoba.
Dari Warung Faiz, kami mendatangi Warung Seblak Bejo. Di sini kami mengerjakan dua hal sekaligus: pembuatan konten dan cetak QRIS. Karena warung seblak biasanya ramai dan pembelinya cepat berganti, kami harus pintar mengambil waktu agar dokumentasi tidak mengganggu aktivitas jual beli. Untuk QRIS, kami membantu menyiapkan sampai tahap cetak sehingga nantinya bisa langsung dipasang dan digunakan. Bagi UMKM kecil, QRIS itu bukan hanya soal “gaya”, tapi soal memudahkan transaksi dan membuat usaha terlihat lebih siap.
Setelah itu kami menuju Badai Laundry, yang hari ini menjadi salah satu titik UMKM yang cukup lengkap pendampingannya.
Di sini kami membantu pembuatan konten, mendorong proses pembuatan NIB, sekaligus membantu pencantuman lokasi di Google Maps (Maps). Laundry itu jenis usaha yang sangat bergantung pada kemudahan ditemukan dan kepercayaan pelanggan. Karena itu, Maps dan identitas digital punya dampak besar: orang baru bisa langsung menemukan lokasi, dan usaha terlihat lebih terpercaya saat dicari. Kunjungan berikutnya adalah ke Warung Mbah Jono, dengan fokus pembuatan banner. Seperti pada UMKM lainnya, kami ingin banner yang dibuat tidak sekadar “ada”, tapi benar benar membantu pelanggan mengenali usaha. Kami berdiskusi singkat tentang informasi apa yang ingin ditampilkan, lalu menyusun konsep agar nanti saat dipasang, banner tersebut bisa langsung berfungsi sebagai identitas usaha sekaligus promosi.
Menutup hari, kami merasa Day 7 ini benar benar penuh gerak. Dimulai dari Posyandu Cempaka 6 yang membuat kami kembali ingat bahwa KKN juga tentang mendukung kegiatan warga, lalu dilanjutkan dengan rangkaian pendampingan UMKM yang hasilnya nyata dan bisa langsung dipakai. Hari ini kami pulang dalam kondisi lelah, tapi puas karena satu per satu UMKM mulai punya bekal: ada yang lebih jelas identitas usahanya lewat banner, ada yang mulai punya konten promosi, ada yang mulai tertib legalitas lewat NIB, ada yang makin mudah ditemukan lewat Maps, dan ada yang makin siap transaksi lewat QRIS.
