
Gedung Harapan, 23 Januari 2026 – Pada hari ke-16 pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa melaksanakan kegiatan demo masak percobaan MPASI (Makanan Pendamping ASI) sebagai bagian dari persiapan program kerja sosialisasi MPASI dan penanganan stunting. Kegiatan ini menjadi langkah awal yang penting untuk memastikan bahwa menu yang akan diperkenalkan kepada masyarakat benar-benar sesuai dengan kebutuhan gizi bayi dan balita.
Tujuan utama dari kegiatan demo masak percobaan ini adalah untuk mengetahui komposisi gizi, keamanan bahan makanan, serta kemudahan dalam proses pengolahan. Dengan melakukan percobaan terlebih dahulu, diharapkan menu MPASI yang akan disosialisasikan nantinya dapat diterapkan secara sederhana oleh masyarakat, khususnya para ibu, dengan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN menyiapkan tiga jenis menu MPASI yang disesuaikan dengan kelompok usia bayi dan balita, sehingga kebutuhan gizi pada setiap tahap pertumbuhan dapat terpenuhi secara optimal. Penyusunan menu dilakukan dengan mempertimbangkan tekstur, kandungan protein, vitamin, serta mineral yang dibutuhkan oleh anak.
Menu pertama ditujukan untuk bayi usia 6–8 bulan, yaitu nasi dengan wortel dan ayam yang dihaluskan hingga berbentuk bubur. Menu ini memiliki tekstur yang lembut sehingga mudah ditelan oleh bayi, serta mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, protein hewani dari ayam, dan vitamin dari wortel yang baik untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh.
Menu kedua diperuntukkan bagi bayi usia 9–12 bulan, dengan bahan utama nasi, brokoli, dan ikan. Pada usia ini, tekstur makanan dibuat sedikit lebih kasar dibandingkan sebelumnya agar bayi mulai belajar mengunyah. Kandungan protein dari ikan serta vitamin dan mineral dari brokoli diharapkan dapat membantu mendukung perkembangan otot dan sistem kekebalan tubuh anak.
Sementara itu, untuk anak usia 12 bulan ke atas, mahasiswa KKN menyiapkan menu berupa nugget sehat yang terbuat dari bayam, daging ayam, dan wortel. Menu ini dirancang agar lebih menarik bagi anak-anak, sekaligus tetap memperhatikan nilai gizi yang seimbang. Pengolahan dilakukan dengan cara yang aman dan higienis agar cocok dikonsumsi oleh balita.
Seluruh menu MPASI yang telah dibuat kemudian dimasak hingga matang dan dicicipi oleh tim untuk memastikan rasa, tekstur, serta keseimbangan gizinya. Proses pencicipan ini bertujuan agar makanan yang disajikan nantinya tidak hanya bergizi, tetapi juga memiliki cita rasa yang sesuai dan dapat diterima oleh anak-anak.

Melalui kegiatan demo masak percobaan MPASI ini, mahasiswa KKN berharap dapat memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat terkait pentingnya pemberian MPASI yang tepat sebagai salah satu upaya pencegahan dan penanganan stunting. Kegiatan ini juga menjadi bekal sebelum pelaksanaan sosialisasi MPASI kepada masyarakat, sehingga program yang dijalankan dapat memberikan dampak yang maksimal dan berkelanjutan.
