KOTA/KECAMATAN : BANDAR LAMPUNG/TELUK BETUNG TIMUR
DESA : KETEGUHAN
KELOMPOK : KETEGUHAN 1
DPL : Siti Khoiriyah, S.H.I., M.H.
ANGGOTA:
1. Hizkia Aji Deksono 2314161047 Agronomi Dan Hortikultura (Koordinator Desa)
2. M. Ismat Zihnifikhar Ghazali 2312011302 Ilmu Hukum (Wakil Koordinator Desa)
3. Maritza Keisha Husin 2316031005 Ilmu Komunikasi (Sekretaris)
4. Rintan Maharani 2311031031 Akuntansi (Bendahara)
5. Salsabilla Octaviani 2351012001 Bisnis Digital (PDD)
6. Adinda Zahrina 2316011057 Sosiologi (PDD)
7. Febriyan Akbar 2255021016 Teknik Mesin (PDD)
8. Nabila Maharani Daulay 2318031036 Farmasi (Acara)
9. Hashell Athaillah Atmaji 2311012005 Bisnis Digital (Acara)
10. Rakha Luthfi Arifin 2351011004 Manajemen (Humas)
11. Zevany Cahaya Hasibuan 2318011137 Kedokteran (Humas)
12. Dita Wahyu Ernita 2314161031 Agronomi Dan Hortikultura (Konsumsi)
13. Annisa Fatieya Rahmah Diena Thyga Ariey Prakoso 2318011026 Kedokteran (Konsumsi)

Bandar Lampung, 31 Januari 2026 – Keteguhan 1 mengikuti kegiatan “Sinergitas Pemerintah dan Masyarakat dalam Mitigasi Bencana di Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung” yang merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat KKN Berdampak Universitas Lampung Periode I Tahun 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, serta kesiapsiagaan masyarakat terhadap berbagai jenis bencana alam yang berpotensi terjadi di wilayah Kecamatan Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung. Dalam kegiatan ini, masyarakat diberikan pemahaman mengenai berbagai jenis bencana alam, antara lain gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan angin topan, beserta upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko bencana.
Pada materi mitigasi gempa bumi, peserta diberikan edukasi mengenai tata cara penyelamatan diri yang benar, yaitu dengan melakukan merunduk, berlindung, dan bertahan (drop, cover, and hold on) guna meminimalkan risiko cedera akibat guncangan dan runtuhan bangunan. Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman terkait mitigasi tsunami, termasuk konsep “20–20”, yaitu apabila getaran gempa dirasakan selama kurang lebih 20 detik, maka masyarakat diimbau untuk segera melakukan evakuasi mandiri dan memiliki waktu sekitar 20 menit sebelum potensi terjadinya tsunami.

Selanjutnya, masyarakat juga diberikan pengetahuan mengenai mitigasi bencana gunung meletus, seperti mengenali tanda-tanda awal erupsi, menggunakan masker untuk menghindari abu vulkanik, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang. Pada bencana banjir, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi apabila air mulai meningkat.
Untuk bencana tanah longsor, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kondisi tanah dan lereng, menghindari penebangan pohon secara berlebihan, serta mewaspadai retakan tanah. Selain itu, mitigasi kekeringan juga disampaikan dengan menekankan pentingnya pengelolaan air secara bijak dan penyimpanan cadangan air bersih.
Sementara itu, pada bencana angin topan, masyarakat diimbau untuk mengamankan barang-barang yang berpotensi terbawa angin serta berlindung di tempat yang aman.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terjalin sinergi yang kuat antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana. Dengan adanya edukasi ini, masyarakat diharapkan menjadi lebih siap, tanggap, dan sigap dalam menghadapi bencana alam, sehingga dapat mengurangi risiko kerugian jiwa maupun harta benda.
