Pringsewu, 30 Januari 2026 — Setelah rangkaian acara resepsi usai, adat Lampung kembali hidup dalam sebuah tradisi yang sarat makna, yakni Nyambai. Tradisi ini menjadi penutup yang indah, menghadirkan suasana hangat dan penuh keakraban bersama Muli Mekhanai Lampung Sinarwaya. Di balik lemparan selendang yang tampak sederhana, tersimpan nilai kebersamaan, penghormatan, dan rasa yang terikat dalam adat.

Nyambai merupakan salah satu tradisi adat Lampung yang dilakukan sebagai bentuk pergaulan adat antara muli dan mekhanai. Prosesi lempar selendang menjadi simbol pembuka interaksi, di mana selendang bukan sekadar kain adat, melainkan lambang ketulusan, kesopanan, dan ikatan rasa yang dijunjung tinggi dalam budaya Lampung. Setiap selendang yang terlempar membawa pesan keakraban tanpa kata.
Dalam pelaksanaannya bersama Muli Mekhanai Lampung Sinarwaya, Nyambai berlangsung dengan penuh keharmonisan. Tawa ringan, gerak yang serasi, dan tatapan penuh makna menyatu dalam suasana pasca resepsi yang hangat. Tradisi ini seolah menjadi jembatan yang merangkai rasa, mempertemukan individu dalam balutan adat yang anggun dan berwibawa.
Lebih dari sekadar hiburan, Nyambai adalah cerminan nilai luhur masyarakat Lampung. Di dalamnya terkandung ajaran tentang kebersamaan, saling menghormati, serta menjaga adab dalam berinteraksi. Nuansa romantis yang hadir bukanlah tentang cinta semata, melainkan tentang rasa memiliki terhadap budaya dan ikatan sosial yang terjalin dengan tulus.
Melalui Nyambai, Muli Mekhanai Lampung Sinarwaya tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga merawat identitas budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Selendang yang terlempar menjadi saksi bahwa adat tidak pernah kehilangan maknanya—ia terus hidup, mengikat rasa, dan menyatukan kebersamaan dalam setiap generasi.

Nyambai pun menjadi penutup yang manis setelah resepsi, meninggalkan kesan mendalam bahwa dalam adat Lampung, setiap gerak dan simbol selalu memiliki cerita. Cerita tentang rasa, tentang kebersamaan, dan tentang selendang yang terbang untuk mengikat hati dalam harmoni adat.
