Mahasiswa KKN Tematik Universitas Lampung (Unila) di Pekon Tri Tunggal Mulya menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga kerukunan antarumat beragama hari ini. Mereka mengawali hari dengan penuh semangat untuk menghadiri perayaan hari ulang tahun Pura Tribuana yang menjadi pusat spiritual bagi masyarakat setempat. Kehadiran para mahasiswa ini disambut hangat oleh tokoh adat serta warga yang sedang mempersiapkan berbagai rangkaian prosesi upacara. Sejak pagi buta, suasana khidmat sudah mulai menyelimuti area pura dengan harum dupa yang menyeruak ke seluruh penjuru desa. Mahasiswa merasa beruntung bisa menyaksikan secara langsung betapa kentalnya nilai toleransi yang ada di lingkungan Pekon Tri Tunggal Mulya. Momen ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan perjalanan spiritual dan budaya yang sangat berkesan bagi seluruh anggota kelompok KKN.
Rangkaian acara sakral yang dimulai pada pagi hari menjadi pembuka yang sangat menyentuh hati bagi para mahasiswa yang hadir. Mereka menyaksikan prosesi persembahyangan yang dilakukan dengan penuh kekhusyukan oleh seluruh umat Hindu yang bermukim di sana. Setiap gerakan dan doa yang dipanjatkan mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas segala berkah yang diterima desa. Mahasiswa memperhatikan setiap detail ritual dengan seksama agar dapat memahami makna filosofis di balik tradisi yang turun-temurun ini. Atmosfer tenang di dalam pura membuat para mahasiswa merasakan kedamaian yang jarang mereka temui di hiruk-pikuk kehidupan kampus. Kegiatan pagi tersebut memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya menghormati akar budaya yang masih terjaga dengan sangat baik.
Memasuki waktu siang hari, para mahasiswa bergegas menuju lokasi utama untuk menyaksikan bagian acara yang lebih dinamis dan berwarna. Di sana, mereka disuguhi pertunjukan tari tradisional yang dibawakan dengan penuh energi oleh kelompok ibu-ibu warga Pekon Tri Tunggal Mulya. Gerakan gemulai namun tegas dari para penari tersebut berhasil memukau mata setiap pasang penonton yang memadati area pertunjukan. Kostum tradisional yang cerah menambah kemeriahan suasana siang itu di tengah teriknya matahari yang tetap tidak menyurutkan antusiasme. Mahasiswa sangat mengagumi semangat para ibu yang tetap lincah melestarikan seni tari sebagai bagian dari identitas budaya mereka. Pertunjukan ini menjadi bukti nyata bahwa seni dan tradisi masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat modern.

Setelah pertunjukan tari berakhir, acara dilanjutkan dengan sesi pemaparan darma yang disampaikan secara langsung oleh pemangku pura setempat. Pemangku pura memberikan penjelasan mendalam mengenai nilai-nilai kebaikan, kedamaian, dan cara menjaga keharmonisan antar sesama manusia. Mahasiswa mendengarkan setiap kalimat yang disampaikan dengan penuh perhatian karena banyak pesan moral yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Penjelasan tersebut membuka wawasan baru bagi mahasiswa mengenai cara pandang hidup yang menjunjung tinggi etika dan spiritualitas. Melalui darma ini, terjalin komunikasi dua arah yang hangat antara pemimpin agama dan para mahasiswa sebagai generasi muda. Sesi ini ditutup dengan doa bersama agar kegiatan KKN dan kesejahteraan desa selalu mendapat perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
Tak hanya menjadi penonton pasif, para mahasiswa KKN Unila ini juga menunjukkan aksi nyata dengan ikut membantu panitia setempat. Begitu rangkaian acara utama selesai, mereka langsung bergerak sigap membantu membereskan tempat kegiatan yang digunakan untuk acara tersebut. Mulai dari mengumpulkan sampah, merapikan kursi, hingga membantu mengangkut perlengkapan upacara dilakukan dengan penuh rasa gotong royong. Tindakan spontan ini mendapatkan apresiasi positif dari warga desa karena mahasiswa tidak segan untuk turun tangan langsung. Kerja sama antara mahasiswa dan warga menciptakan ikatan kekeluargaan yang semakin kuat di antara kedua belah pihak. Bagi mahasiswa, membantu meringankan beban pekerjaan warga adalah bentuk pengabdian kecil namun memiliki makna yang sangat besar.
Sebagai penutup kegiatan yang indah, para mahasiswa memanfaatkan momen tersebut untuk melakukan swafoto bersama di area Pura Tribuana. Mereka berfoto dengan latar belakang arsitektur pura yang megah serta bersama warga yang masih mengenakan pakaian adat lengkap. Keceriaan terpancar dari wajah setiap mahasiswa karena telah berhasil melewati hari yang penuh dengan pengalaman baru yang tak terlupakan. Dokumentasi ini nantinya akan menjadi kenang-kenangan berharga yang menunjukkan keberhasilan program KKN dalam berintegrasi dengan masyarakat lokal. Foto-foto tersebut juga akan dibagikan di media sosial sebagai bentuk promosi keindahan budaya yang ada di Lampung. Setiap jepretan kamera seolah merekam jejak persaudaraan yang telah terjalin kuat selama mereka mengabdi di Pekon tersebut.

Hari ini menjadi bukti nyata bahwa keberadaan mahasiswa KKN Unila memberikan warna tersendiri bagi dinamika kehidupan di Pekon Tri Tunggal Mulya. Melalui partisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan dan budaya, mereka belajar tentang indahnya keberagaman yang ada di Indonesia. Pengalaman mengikuti HUT Pura Tribuana ini akan menjadi bekal berharga bagi karakter mereka sebagai calon pemimpin di masa depan. Mahasiswa menyadari bahwa menghargai tradisi lokal adalah kunci utama untuk bisa diterima dan bekerja sama dengan masyarakat. Mereka kembali ke posko dengan hati yang puas dan pikiran yang lebih terbuka terhadap kearifan lokal yang sangat kaya. Semoga semangat kebersamaan ini terus terjaga hingga berakhirnya masa bakti mereka di desa tercinta ini.
