
PULAU PASARAN, BANDAR LAMPUNG – Pada hari kedua puluh tujuh Kuliah Kerja Nyata (KKN), Rabu (4/2/2026), Kelompok KKN Universitas Lampung (UNILA) Kota Karang melakukan kunjungan ke Pulau Pasaran. Kunjungan ini tidak sekadar silaturahmi, tetapi merupakan upaya belajar langsung tentang salah satu mata pencaharian utama masyarakat setempat: pembuatan ikan asin.
Mahasiswa KKN mengunjungi warga yang sedang menjemur ikan asin di area terbuka. Kami terlibat langsung dalam proses memilah-milah berbagai jenis ikan dari tumpukan hasil tangkapan yang akan diasinkan. Sembari membantu, kami belajar dari para pelaku usaha tentang tahapan pembuatan ikan asin, mulai dari penggaraman, penjemuran, hingga pengemasan, serta memahami perbedaan jenis ikan yang biasa diolah.
Kegiatan berlangsung di Pulau Pasaran, wilayah Kelurahan Kota Karang, pada Rabu siang, 4 Februari 2026, yang merupakan waktu ideal untuk melihat proses penjemuran ikan asin.
Kegiatan ini melibatkan para warga dan pengrajin ikan asin di Pulau Pasaran sebagai guru lapangan yang berbagi pengetahuan praktis. Seluruh anggota Kelompok KKN UNILA Kota Karang hadir sebagai peserta belajar dan mitra diskusi.
Pembuatan ikan asin adalah bagian dari kearifan lokal dan ekonomi riil masyarakat pesisir. Dengan mempelajari prosesnya, kami mendapatkan pemahaman mendalam tentang potensi ekonomi, tantangan, dan siklus hidup usaha mikro di wilayah tersebut. Hal ini dapat menjadi landasan untuk program pemberdayaan atau pengembangan usaha yang lebih relevan dan berkelanjutan.
Kunjungan ini memberikan pengalaman langsung yang otentik dan berharga. Mahasiswa tidak hanya belajar teknik pengolahan, tetapi juga menyaksikan ketekunan dan keahlian warga. Proses memilah ikan dilakukan dengan serius namun penuh keakraban, menciptakan interaksi yang hangat dan saling menghormati antara mahasiswa dengan masyarakat.
Dengan turun langsung ke lapangan dan belajar dari ahlinya, mahasiswa KKN UNILA tidak hanya menambah wawasan tentang ekonomi lokal, tetapi juga semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat, memahami bahwa pengabdian yang bermakna dimulai dengan keinginan untuk belajar dari dan bersama warga setempat.
