Pada Day 20, kami fokus menjalankan rangkaian kegiatan lapangan untuk program Mitigasi Bencana di Kelurahan Segala Mider. Sejak pagi, tim sudah menyiapkan rute, alat dokumentasi, catatan, dan pembagian tugas supaya survei berjalan rapi. Tujuan hari itu jelas: kami ingin mendapatkan gambaran nyata tentang sebaran titik banjir/genangan yang sering dikeluhkan warga, sekaligus menyusun peta sederhana berbasis lingkungan dan RT agar kelurahan punya data awal yang lebih mudah dipahami.
Segala Mider sebagai wilayah kelurahan di kota memiliki karakter yang khas: permukiman padat, gang-gang sempit, aktivitas warga yang ramai, dan banyak jalur aliran air kecil yang saling terhubung. Dari diskusi singkat dengan beberapa warga dan pengamatan awal, kami menyadari bahwa masalah genangan seringkali bukan karena satu sebab tunggal, tetapi gabungan beberapa faktor yang saling memperkuat misalnya kontur jalan yang membentuk cekungan, saluran air yang sempit, serta aliran yang melambat ketika hujan deras.

Kami memulai survei dengan pendekatan “jemput fakta di lapangan”: bukan hanya menandai titik, tetapi juga melihat apa yang terjadi di sekitar titik tersebut. Saat memasuki Lingkungan 1, kami menelusuri beberapa gang permukiman dan menemukan adanya titik genangan pada RT 4 dan RT 1. Kondisi di area ini memperlihatkan pola yang sering ditemukan di kawasan perkotaan: ada bagian jalan yang lebih rendah dibanding sekitarnya sehingga air cenderung berkumpul, dan di beberapa sisi terlihat saluran air yang tidak selalu lancar mengalir. Walau tidak sedang hujan deras saat kami datang, tanda-tanda bekas genangan masih terlihat dari noda air pada sisi jalan dan informasi warga yang menyebut titik tersebut “sering jadi langganan” ketika hujan turun lama.

Setelah itu, kami berpindah ke Lingkungan 2. Di lingkungan ini, kami mengidentifikasi setidaknya satu titik genangan pada RT 5. Lokasinya berada di jalur yang cukup sering dilewati warga, sehingga ketika terjadi genangan, dampaknya tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga aktivitas harian: warga yang bekerja, anak sekolah, hingga akses kendaraan. Kami mencatat bahwa wilayah ini membutuhkan perhatian dari sisi aliran air karena jika aliran melambat di satu titik, maka efeknya bisa “mundur” ke titik lain di jalur yang sama.
Bagian paling penting dari survei hari itu terjadi ketika kami memasuki Lingkungan 3. Dari keseluruhan temuan, sebaran titik banjir paling banyak kami temukan di Lingkungan 3. Kami mendatangi beberapa RT dan mendokumentasikan titik-titik yang menurut warga sering tergenang serta terlihat memiliki indikasi masalah drainase atau kontur. Di Lingkungan 3, kami mencatat adanya titik genangan pada RT 1, RT 8, RT 9, dan RT 10.
Selain itu, dari penyisiran lanjutan, kami juga mengidentifikasi adanya tiga titik tambahan yang terindikasi rawan genangan, namun masih membutuhkan verifikasi ulang untuk memastikan koordinat dan batas lokasi yang tepat berdasarkan RT setempat. Jadi total hasil temuan hari itu adalah 10 titik, dengan mayoritas terkonsentrasi di Lingkungan 3. Yang menarik, setiap titik yang kami temukan punya “cerita” yang mirip tapi tidak sepenuhnya sama. Ada titik yang genangannya terjadi karena posisi jalan lebih rendah, ada yang karena aliran air tertahan, dan ada juga yang menurut warga berkaitan dengan kondisi saluran yang kadang tersumbat ketika hujan membawa sampah atau sedimen.

Kami juga memahami bahwa penyebab banjir/genangan di kelurahan kota seringkali bersifat akumulatif: satu saluran tersumbat bisa membuat air meluber ke gang sebelah; satu cekungan bisa menjadi “kolam sementara” ketika debit air naik; dan ketika curah hujan tinggi, titik yang biasanya aman bisa ikut terdampak.
Dari kegiatan ini, kami tidak berhenti pada “menemukan lokasi” saja. Kami juga menyusun catatan rekomendasi awal untuk penguatan mitigasi. Beberapa hal yang kami garis bawahi adalah perlunya pemetaan titik rawan secara berkala, edukasi warga mengenai kebersihan saluran air, serta koordinasi lintas RT terutama di area yang aliran airnya saling terhubung. Karena fakta di lapangan menunjukkan, genangan bukan sekadar masalah satu RT seringkali masalahnya menyebar mengikuti jalur aliran air.
Di akhir hari, kami melakukan rekap dan evaluasi internal tim. Hasil survei Day 20 ini menjadi bagian penting dalam laporan karena memberi dasar yang jelas untuk langkah selanjutnya: menentukan prioritas penanganan, menyusun peta titik rawan yang mudah dipahami, dan menyiapkan bahan komunikasi jika nanti dilakukan koordinasi dengan pihak kelurahan maupun tokoh masyarakat. Secara keseluruhan, Day 20 menjadi hari yang sangat “bernilai” karena kami benar-benar melihat langsung kondisi riil di lapangan dan dari sana kami bisa menyusun gambaran bahwa Lingkungan 3 adalah wilayah yang perlu diprioritaskan dalam upaya mitigasi genangan/banjir di Kelurahan Segala Mider.
Kalau kamu mau, aku bisa bikinin juga versi lebih formal gaya laporan kampus (pakai subjudul: Latar Belakang, Metode, Hasil, Analisis, Rekomendasi) atau versi narasi super panjang yang lebih “cerita lapangan” (seolah kamu menulis diary kegiatan KKN).
