Day 26 kami lanjut fokus ke penyempurnaan dokumentasi after movie sekaligus menuntaskan beberapa kegiatan yang sifatnya koordinasi dan output program kerja. Pagi hari kami mulai dengan menyiapkan konsep pengambilan video wawancara singkat untuk after movie, supaya video akhirnya tidak cuma berisi potongan kegiatan, tapi juga punya suara dan pesan langsung dari pihak kelurahan. Kami merapikan pertanyaan yang ingin disampaikan, menyiapkan posisi pengambilan gambar, memastikan suara bisa terdengar jelas, dan membagi peran siapa yang merekam, siapa yang mengarahkan, dan siapa yang memastikan alur wawancaranya tetap mengalir.
Setelah semuanya siap, kami mengambil video bersama pak lurah untuk kebutuhan after movie. Dalam pengambilan ini, kami berusaha menampilkan suasana yang natural dan tetap sopan, dengan isi pembicaraan yang menekankan kegiatan KKN yang sudah berjalan, dukungan dari pihak kelurahan, serta harapan agar hasil kegiatan bisa bermanfaat dan dilanjutkan oleh masyarakat. Pengambilan video ini penting buat kami karena jadi penguat pesan di bagian akhir after movie, sekaligus jadi bukti bahwa kegiatan kami terkoordinasi dengan kelurahan dan mendapat respon langsung dari perangkat setempat.

Selesai pengambilan video, kami melanjutkan agenda pemberian QRIS sebagai bagian dari program kerja pendampingan UMKM. Kami memastikan prosesnya tidak sekadar serah-terima, tapi benar-benar ada pendampingan dan pemahaman dasar supaya pelaku UMKM tahu cara menggunakannya dalam transaksi sehari-hari. Kami menjelaskan cara menampilkan QR, cara pelanggan melakukan pembayaran, dan apa yang perlu dicek saat transaksi masuk. Kami juga mengingatkan agar QR diletakkan di tempat yang mudah terlihat dan tidak gampang rusak, sehingga bisa dipakai terus dan benar-benar mendukung penjualan.
Setelah itu kami lanjut mengambil video pak kaling 1, yaitu pak Ridwan, untuk melengkapi footage after movie dari sisi lingkungan. Kami ingin after movie ini punya sudut pandang yang lebih dekat ke warga, jadi testimoni atau pesan dari ketua lingkungan jadi bagian yang penting. Proses take video ini kami buat tetap santai tapi terarah, supaya beliau nyaman menyampaikan pesan dan kesannya terhadap kegiatan yang dilakukan tim KKN. Dengan adanya footage dari pak kaling, video after movie jadi terasa lebih seimbang karena ada suara dari pihak kelurahan dan suara dari pihak lingkungan.

Menjelang siang sampai sore kami juga mengurus pemberian undangan ke kelurahan. Kegiatan ini kami lakukan sebagai bentuk koordinasi resmi untuk agenda yang akan datang, sekaligus memastikan pihak kelurahan mengetahui jadwal, tempat, dan maksud kegiatan yang akan dilaksanakan. Kami menyerahkan undangan dengan rapi, menyampaikan informasi secara langsung, dan memastikan tidak ada detail yang terlewat agar kegiatan nanti berjalan lancar dan pihak kelurahan bisa menyesuaikan waktu serta kehadiran.
Di akhir hari, kami menutup dengan merapikan dokumentasi dan menyimpan semua hasil video yang sudah diambil hari itu. Kami mulai mengatur folder footage after movie agar lebih mudah saat proses editing, menandai video pak lurah dan pak kaling sebagai bagian penting, serta mencatat poin-poin yang perlu dimasukkan dalam alur cerita after movie. Day 26 buat kami terasa sebagai hari yang memperkuat “narasi” KKN, karena selain ada output program kerja seperti QRIS, kami juga mengumpulkan footage kunci dari perangkat kelurahan dan lingkungan yang akan membuat after movie lebih hidup, lebih jelas pesannya, dan lebih berkesan.
