
Di era ekonomi digital saat ini, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dituntut untuk mampu beradaptasi dengan teknologi agar tetap kompetitif. Banyak UMKM di lokasi Segala Mider yang memiliki potensi produk yang luar biasa, namun masih terkendala aksesibilitas lokasi dan efisiensi transaksi. Banyak konsumen saat ini lebih memilih transaksi non-tunai (cashless) dan mencari informasi produk melalui mesin pencari. Tanpa kehadiran digital di Google Maps dan sistem pembayaran QRIS, UMKM lokal berisiko kehilangan potensi pasar yang lebih luas. Program ini hadir sebagai jembatan transformasi digital bagi para pelaku usaha desa.

Pada kegiatan survei lapangan yang dilaksanakan oleh tim KKN, kami menemukan bahwa masih banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah desa yang belum memanfaatkan teknologi digital dalam kegiatan usahanya. Sebagian besar UMKM tersebut belum memiliki sistem transaksi online, belum terdaftar di Google Maps, serta belum memiliki legalitas usaha yang memadai seperti Nomor Induk Berusaha (NIB). Kondisi ini tentu menjadi kendala dalam pengembangan usaha karena membatasi jangkauan pemasaran serta akses terhadap berbagai program bantuan pemerintah.

Pada hari ini kami melaksanakan kegiatan pendampingan dan fasilitasi digitalisasi UMKM sebagai bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN dalam membantu meningkatkan daya saing ekonomi masyarakat setempat. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan langsung kepada para pelaku usaha melalui wawancara, pendataan usaha, serta pendampingan teknis secara bertahap sesuai dengan kebutuhan masing-masing UMKM.
Beberapa UMKM yang telah berhasil kami dampingi dalam kegiatan ini antara lain:
- Warung sembako ibu wulan pembuatan benner
- Warung makan milik pak arjuna pembuatan maps
- Penjahit Azizan mode pembuatan qris,maps dan nib
- Mie ayam gang pembuatan google maps dan nib
