
Sukarame II – Bertempat di kediaman Bapak Harun selaku Kepala Lingkungan, mahasiswa KKN Sukarame II sukses menyelenggarakan kegiatan Lokakarya pada Selasa malam (13/1). Acara yang dimulai pukul 18.30 WIB ini dihadiri langsung oleh Lurah Sukarame II, Bapak Angga Dwiyansyah, S.Sos., M.M., beserta jajaran Ketua RT dan tokoh masyarakat setempat. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan program mahasiswa dengan kebutuhan warga sesungguhnya di lingkungan.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan oleh moderator yang dilanjutkan dengan doa bersama, kemudian sambutan hangat dari Koordinator Desa (Kordes) dan Bapak Lurah. Dalam sambutannya, Bapak Angga Dwiyansyah memberikan arahan agar program kerja yang disusun dapat memberikan dampak berkelanjutan bagi warga. Sesi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan garis besar program kerja oleh Kordes, yang kemudian dirinci lebih dalam oleh masing-masing Penanggung Jawab (PJ) program guna memberikan gambaran teknis pelaksanaan di lapangan.

Salah satu poin penting yang dibahas adalah strategi penanganan gizi buruk secara tepat sasaran melalui pembagian nutrisi tambahan berupa susu, alpukat, dan telur. Mahasiswa akan melakukan kunjungan langsung ke rumah (door-to-door) bagi balita yang sudah terdata memiliki indikasi kekurangan gizi. Selain untuk memastikan bantuan tepat sasaran, metode ini dipilih untuk menjaga privasi warga dan mencegah terjadinya kecemburuan sosial. Di sisi infrastruktur, para PJ juga memaparkan rencana pemasangan lampu reflektor di titik-titik minim penerangan pada setiap lingkungan guna meningkatkan keamanan warga saat malam hari.

Selain itu, program kerja lainnya dalam lokakarya ini juga tertuju pada inovasi Sistem Mitigasi Bencana Terintegrasi. Mahasiswa berencana menyusun peta kerawanan bencana khusus wilayah Sukarame II guna memetakan titik-titik yang memiliki risiko tinggi. Di lokasi rawan tersebut, mahasiswa akan memasang alat pendeteksi longsor rakitan yang memiliki sistem peringatan dini cerdas. Alat ini nantinya akan mengirimkan sinyal otomatis ke pengeras suara (toa) masjid terdekat untuk membunyikan alarm jika terjadi pergerakan tanah yang membahayakan. Program ini tidak hanya berhenti pada pemasangan alat, tetapi juga akan diikuti dengan sosialisasi berkelanjutan mengenai mitigasi bencana agar masyarakat lebih sigap dan tangguh dalam menghadapi potensi ancaman alam di kemudian hari.
