Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan tahapan awal yang wajib diikuti oleh mahasiswa sebelum pelaksanaan KKN di lokasi penempatan. Kegiatan pembekalan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teknis dan konseptual mengenai pelaksanaan KKN, sistem koordinasi antar kelompok, serta gambaran umum terkait kewajiban, program kerja, dan tanggung jawab mahasiswa selama menjalankan pengabdian kepada masyarakat. Pembekalan KKN ini dilaksanakan bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) sebagai bentuk persiapan agar pelaksanaan KKN dapat berjalan secara terarah, efektif, dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Dalam pembekalan tersebut disampaikan bahwa satu desa akan ditempati oleh empat kelompok KKN (kelompok besar). Oleh karena itu, dibentuk Koordinator Desa (Kordes) yang berasal dari masing-masing kelompok untuk mempermudah koordinasi antar kelompok dalam satu desa. Selain itu, setiap kelompok memiliki ketua kelompok yang bertanggung jawab dalam mengoordinasikan seluruh anggota kelompoknya. Pelaksanaan KKN ditetapkan berlangsung selama satu bulan atau 30 hari, dengan ketentuan bahwa mahasiswa wajib berada di desa setiap hari dan melaksanakan kegiatan secara penuh selama masa KKN berlangsung.
Pada tahap pra-KKN, Kordes memiliki peran penting dalam melakukan koordinasi awal dengan masing-masing kelompok. Kegiatan pra-KKN dijadwalkan pada tanggal 5–6 Januari. Pada tahap ini, setiap Kordes membentuk perangkat kelompok, menentukan tempat tinggal selama KKN, serta mencari dan menetapkan anggota kelompok yang bertugas mengelola posko. Selain itu, pra-KKN juga menjadi waktu untuk mematangkan perencanaan awal program kerja yang akan dilaksanakan di desa.
Program kerja KKN diarahkan untuk mendukung program Kabupaten Lampung Selatan, yang meliputi pengembangan edu wisata, ketahanan pangan, serta pembuatan produk unggulan desa. Setiap kelompok akan ditempatkan di dusun yang berbeda. Di Desa Merak Batin, terdapat tiga dusun yang menjadi lokasi penempatan, yaitu Dusun Merak Batin Induk, Dusun Citerep (penempatan kelompok 2), dan Dusun Tanjung Waras.
Selain program utama, mahasiswa juga diwajibkan melakukan identifikasi dan pendataan terkait kondisi desa dan dusun selama pra-KKN. Kegiatan ini meliputi pendataan aparat desa, kepala dusun, tokoh masyarakat, serta warga setempat. Mahasiswa juga harus mencatat jumlah penduduk per dusun, memetakan kondisi wilayah, serta menyusun peta KKN, seperti pemetaan wilayah Dusun Citerep. Identifikasi potensi alam yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan KKN juga menjadi bagian penting, termasuk kondisi sosial masyarakat seperti kelompok tani, posyandu, PKK, dasawisma, kelompok pemuda, serta kondisi pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA.
Dalam bidang pendidikan, mahasiswa melakukan survei minat belajar masyarakat dengan mengambil sampel minimal 10 orang, serta mengamati fasilitas dan akses pendidikan yang tersedia. Pada aspek kesehatan dan lingkungan, mahasiswa diwajibkan mengidentifikasi fasilitas kesehatan seperti puskesmas, kondisi kesehatan masyarakat, serta permasalahan kesehatan yang ada, salah satunya terkait ketersediaan air bersih. Pengelolaan sampah juga menjadi perhatian, dengan rencana pengolahan sampah melalui kegiatan kreatif pemanfaatan barang bekas.
Aspek ekonomi desa turut menjadi fokus dalam kegiatan pra-KKN. Mahasiswa melakukan survei kondisi ekonomi berdasarkan data desa atau dusun, mengidentifikasi potensi unggulan desa, kendala ekonomi yang dihadapi masyarakat, serta sistem pemasaran yang ada. Berdasarkan hasil riset dan survei tersebut, setiap kelompok diharapkan mampu menentukan program unggulan yang paling sesuai dan berdampak bagi masyarakat.
Sebagai catatan tambahan, mahasiswa putra diwajibkan mencari dan melaksanakan salat lima waktu secara rutin di masjid atau musala setempat sebagai bentuk pembauran dengan masyarakat. Selain itu, dijadwalkan pula kunjungan survei lokasi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) ke desa penempatan, dengan penentuan tanggal yang akan ditetapkan kemudian.
Melalui kegiatan pembekalan dan pra-KKN ini, mahasiswa diharapkan memiliki kesiapan yang matang sebelum terjun langsung ke masyarakat. Dengan perencanaan yang terstruktur dan berbasis hasil survei, pelaksanaan KKN diharapkan dapat berjalan optimal, partisipatif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa, sekaligus mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
