Kemiling Permai, 30 Januari 2026 – Dalam upaya memperkenalkan teknologi pertanian yang terjangkau dan aplikatif, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung mengadakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan sistem aquaponik sederhana menggunakan bahan daur ulang. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana warga dapat memanfaatkan galon air mineral bekas dan besek (wadah anyaman bambu) yang diisi arang serta kapas untuk menyemai kangkung, menciptakan sistem produksi pangan terintegrasi di rumah dengan modal minimal. Berbeda dengan pelatihan partisipatif langsung, kegiatan ini dirancang dengan format one-way demonstration, di mana tim KKN secara lengkap mempraktikkan seluruh proses perakitan dan pengoperasian sistem aquaponik di atas panggung, sementara peserta berperan sebagai observer aktif yang menyimak, mencatat, dan mengajukan pertanyaan untuk kemudian mempraktikkan ilmu yang didapat secara mandiri di rumah masing-masing.
Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai prinsip dasar aquaponik dan adaptasinya dengan bahan lokal. Ditekankan bahwa sistem ini bekerja dengan memanfaatkan siklus air tertutup: air dari kolam ikan lele dalam galon dialirkan ke media tanam kangkung di atasnya, di mana akar tanaman akan menyerap nutrisi dari kotoran ikan, dan air yang telah tersaring akan kembali bersih ke kolam. Keunggulan sistem galon bekas adalah biaya produksi yang hampir nol, kemudahan perawatan, dan fleksibilitas penempatan di pekarangan sempit, balkon, atau bahkan di dalam rumah.
Setelah sesi tanya jawab pendahuluan, tim demonstrasi yang terdiri dari pemateri, memulai demonstrasi langsung di depan partisipan menggunakan satu unit set aquaponik lengkap dari galon bekas. Tahapan yang ditunjukkan meliputi:
- Persiapan galon bekas
- Besek diletakkan di atas galon dan diisi dengan lapisan arang (sebagai media penyangga dan penyaring) lalu lapisan kapas steril (sebagai media semai benih kangkung)
- Benih kangkung ditaburkan merata di atas kapas yang telah dibasahi
- Galon diisi air bersih setinggi 3/4 bagian, kemudian dimasukkan 5-7 ekor benih lele berukuran 3-5 cm
Selama demonstrasi, peserta tampak antusias menyimak, terutama pada bagian teknik penyemaian kangkung di media kapas. “Saya tidak menyangka barang bekas seperti galon dan besek bisa disulap jadi alat bertani. Ini sangat cocok untuk ibu-ibu seperti kami yang ingin menanam sayur tapi tidak punya lahan.” ujar salah satu peserta.
Di akhir sesi, setiap peserta mendapatkan paket bahan praktik mandiri yang berisi sepaket benih kangkung dan 5 ekor benih lele dan pakan lele. Kegiatan ini tidak hanya sukses mentransfer teknologi tepat guna, tetapi juga mendorong gerakan daur ulang kreatif dan kemandirian pangan keluarga. Melalui sistem aquaponik galon bekas ini, diharapkan setiap rumah tangga di Kelurahan Kemiling Permai dapat memproduksi sayuran dan protein hewani secara mandiri, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
