Kali Asin, 22 Juli 2026 — Pelayanan kesehatan dan edukasi pencegahan penyakit dilaksanakan dalam satu rangkaian kegiatan Posyandu Delima yang melayani masyarakat Dusun II dan Dusun III Kali Asin pada Rabu pagi. Kegiatan tersebut melibatkan kader Posyandu Delima, aparatur setempat, masyarakat, serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Lampung.
Sejak kegiatan dimulai, mahasiswa membantu kader mempersiapkan lokasi pelayanan, menata perlengkapan, mengarahkan masyarakat yang hadir, serta mendukung proses administrasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pembagian tugas dilakukan agar rangkaian pelayanan dapat berjalan secara tertib, efektif, dan memberikan kenyamanan kepada masyarakat, khususnya ibu yang membawa bayi dan balita.
Posyandu Delima menjadi salah satu sarana pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, orang tua dapat memantau kondisi pertumbuhan dan perkembangan anak secara berkala. Posyandu juga menjadi tempat bagi kader untuk menyampaikan berbagai informasi kesehatan serta mengingatkan keluarga mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak.
Mahasiswa menjalankan peran pendampingan sesuai dengan arahan kader posyandu. Kehadiran mahasiswa bukan untuk menggantikan tugas kader maupun tenaga kesehatan, melainkan membantu mendukung kelancaran kegiatan, mengatur alur peserta, serta menciptakan suasana pelayanan yang lebih terorganisasi.
Selain membantu pelayanan posyandu, mahasiswa memberikan sosialisasi mengenai pencegahan Demam Berdarah Dengue atau DBD kepada masyarakat yang hadir. Sosialisasi dilaksanakan sebagai bentuk edukasi kesehatan preventif karena DBD merupakan penyakit yang dapat dicegah melalui kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Dalam penyampaian materi, masyarakat diajak untuk lebih aktif memeriksa lingkungan rumah, terutama tempat yang berpotensi menampung air. Bak mandi, ember, wadah air, pot tanaman, kaleng bekas, ban bekas, dan berbagai barang yang dibiarkan terbuka dapat menjadi tempat nyamuk berkembang biak apabila tidak dibersihkan secara rutin.
Masyarakat juga diingatkan untuk menerapkan langkah pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras dan membersihkan tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, serta memanfaatkan kembali atau membuang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Pemeriksaan lingkungan perlu dilakukan secara berkala dan tidak hanya ketika terdapat kasus DBD di sekitar tempat tinggal.
Tidak hanya menyampaikan materi secara lisan, mahasiswa juga memberikan praktik langsung mengenai pembuatan perangkap nyamuk sederhana dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Praktik tersebut bertujuan menunjukkan kepada warga bahwa barang bekas di lingkungan rumah dapat dimanfaatkan sebagai alat pendukung dalam upaya mengurangi keberadaan nyamuk.
Dalam praktik tersebut, botol plastik bekas dipotong menjadi dua bagian. Bagian atas botol kemudian dipasang secara terbalik menyerupai corong dan dimasukkan ke bagian bawah botol. Selanjutnya, bagian dalam botol diisi dengan larutan gula merah yang telah disiapkan. Perangkap tersebut dapat ditempatkan di area rumah yang lembap, gelap, atau sering didatangi nyamuk.
Mahasiswa memperagakan setiap tahap pembuatan secara langsung agar masyarakat lebih mudah memahami dan dapat mempraktikkannya kembali di rumah. Warga juga diingatkan untuk meletakkan perangkap di tempat yang aman, jauh dari jangkauan anak-anak, serta memeriksa dan membersihkannya secara berkala agar tidak berubah menjadi tempat genangan air yang justru berpotensi menimbulkan masalah baru.
Pemanfaatan botol bekas dalam praktik tersebut sekaligus menjadi bentuk edukasi mengenai pengelolaan sampah rumah tangga. Barang yang sebelumnya tidak digunakan dapat dimanfaatkan kembali menjadi alat sederhana yang mendukung upaya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi, mahasiswa turut memberikan obat pemberantas jentik nyamuk (ABED) kepada beberapa warga. Pemberian tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat mengendalikan jentik pada tempat penampungan air yang sulit dikuras atau dibersihkan secara rutin.
Mahasiswa juga memberikan penjelasan kepada warga agar obat pemberantas jentik digunakan sesuai petunjuk pemakaian dan tidak diberikan secara berlebihan. Warga diingatkan bahwa penggunaan obat pemberantas jentik merupakan langkah pendukung, sedangkan upaya utama tetap dilakukan melalui pemeriksaan dan pembersihan tempat penampungan air secara rutin.
Selain menjaga kebersihan rumah masing-masing, masyarakat didorong untuk membangun kepedulian bersama terhadap kebersihan lingkungan. Pencegahan DBD akan lebih efektif apabila dilaksanakan secara serentak oleh seluruh warga karena nyamuk dapat berkembang biak dan berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lainnya.
Materi sosialisasi disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat dari berbagai kelompok usia. Kegiatan praktik juga memberikan kesempatan kepada warga untuk melihat secara langsung proses pembuatan perangkap nyamuk sehingga informasi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi dapat segera diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penggabungan pelayanan Posyandu Delima, sosialisasi pencegahan DBD, praktik pembuatan perangkap nyamuk dari botol bekas, serta pembagian obat pemberantas jentik memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat. Selain memperoleh pelayanan kesehatan rutin bagi ibu dan anak, warga juga mendapatkan pengetahuan dan keterampilan sederhana untuk membantu menjaga lingkungan rumah dari perkembangbiakan nyamuk.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Dusun II dan Dusun III diharapkan semakin aktif mengikuti pelayanan posyandu serta lebih konsisten menjaga kebersihan lingkungan. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama dapat menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan Kali Asin yang lebih bersih, sehat, dan terbebas dari tempat perkembangbiakan nyamuk.



