
jadi salah satu hari yang terasa paling “hidup”, karena ritmenya mulai stabil dan pekerjaan kami semakin nyata. Kalau di hari-hari awal kami masih banyak menyesuaikan diri, mengenali lingkungan, dan membangun komunikasi dengan warga maupun pihak setempat, maka di hari ketiga ini kami benar-benar mulai bergerak dengan arah yang lebih jelas. Suasana posko juga terasa berbeda lebih ramai, lebih terjadwal, dan lebih banyak diskusi kecil yang ujungnya selalu sama bagaimana kegiatan kami benar-benar bermanfaat dan bisa diterima masyarakat.
Pagi itu kami membuka hari dengan obrolan singkat di posko untuk menyusun agenda. Kami membagi fokus besar sesuai program kerja yang sudah dirancang UMKM, pengelolaan sampah dan lingkungan, pemberdayaan perempuan dan anak, sosialisasi dan pencegahan stunting, serta mitigasi bencana melalui pemetaan. Hari ini bukan tipe hari yang selesai dalam satu kegiatan besar, melainkan rangkaian langkah-langkah kecil yang saling menyambung, seperti puzzle yang pelan-pelan membentuk gambar utuh.
Untuk program UMKM, kami mulai dari hal yang kelihatannya sederhana tapi dampaknya besar memastikan UMKM yang kami dampingi bisa ditemukan dengan mudah oleh siapa pun. Banyak usaha lokal sebenarnya punya produk bagus, tapi sulit berkembang karena orang tidak tahu letaknya, atau pelanggan baru bingung harus ke mana. Dari sini kami menargetkan pencantuman lokasi UMKM melalui Google Maps. Darel mengambil peran untuk bagian ini mengumpulkan titik lokasi, memastikan alamat dan patokan tepat, lalu menyiapkan agar lokasi UMKM bisa muncul di pencarian dan link-nya bisa dibagikan. Bagi kami, ini seperti membuka pintu pertama untuk UMKM ketika lokasi sudah jelas, usaha jadi lebih “terlihat” di dunia digital.

Masih dari UMKM, obrolan kami berlanjut ke kebutuhan transaksi non-tunai. Di banyak tempat, QRIS sudah seperti standar baru bukan cuma soal modern, tapi soal kemudahan dan kepercayaan pelanggan. Karena itu kami juga mulai langkah pembuatan QRIS, dan Dana (premium) mengambil tanggung jawab untuk prosesnya. Di sela persiapan, kami juga berdiskusi soal kesiapan pelaku usaha apa mereka sudah punya rekening/akun pendukung, bagaimana cara penggunaan QRIS nantinya, dan bagaimana kami menjelaskan agar mereka tidak merasa proses ini rumit. Rasanya menarik, karena kami bukan hanya “membuatkan”, tapi juga harus memastikan UMKM benar-benar bisa memakai dan merasa terbantu.
Selain digitalisasi lokasi dan transaksi, kami juga memikirkan sisi tampilan. Banyak UMKM sebenarnya kuat di rasa atau kualitas, tapi belum punya identitas visual yang jelas. Maka di Day 3 ini kami mematangkan rencana banner untuk 5 UMKM. Banner ini bukan sekadar hiasan, tetapi alat komunikasi supaya orang yang lewat langsung paham usaha apa yang dijalankan, apa yang dijual, dan bagaimana menghubungi. Bersamaan dengan itu, kami juga mulai menyiapkan pendampingan pembuatan NIB untuk 5 UMKM. Bagian ini terasa penting karena legalitas sering jadi batu loncatan untuk usaha agar lebih berani berkembang. Dalam prosesnya, kami mulai memetakan dokumen yang dibutuhkan, menyiapkan alur pendaftaran, dan memastikan nanti saat eksekusi tidak banyak tersendat.
Siang harinya, fokus kami bergeser ke program pengelolaan sampah dan lingkungan. Hari ini cukup padat karena kami mulai menghitung kebutuhan material untuk mendukung aksi bersih sekaligus fasilitas dasar yang bisa membantu kebiasaan warga. Kami menyiapkan rencana pengadaan dan perakitan sarana seperti bak sampah dan penyangga. Ada yang mengurus bak sampah kapasitas 60 liter, ada perhitungan bak 45 yang totalnya dihitung empat buah menjadi 180, lalu penyangga yang disiapkan dengan kebutuhan 50 ditambah dua unit sehingga totalnya 100. Hal-hal kecil seperti paku, kayu, dan cat juga ternyata sangat menentukan, karena tanpa itu penyangga dan fasilitasnya tidak akan kokoh atau rapi.
Momen ini cukup terasa “real”, karena kami mulai melihat program lingkungan bukan hanya slogan, tapi rangkaian teknis yang harus dipikirkan benar. Kami menghitung semuanya dengan rapi paku 20, kayu 100, warna/cat dan penyangga 90 hingga akhirnya total aksi bersih dan kebutuhan material mencapai 490. Buat kami, angka itu bukan hanya nominal, tapi simbol bahwa perubahan lingkungan memang perlu usaha dan biaya, meski langkahnya dimulai dari hal sederhana. Di sela perhitungan, kami juga mengamati titik-titik yang rawan sampah atau lokasi yang sepertinya paling membutuhkan fasilitas, supaya program kami nanti tidak asal taruh, tapi tepat sasaran.
Sore menjelang, suasana posko kembali ramai karena tim pemberdayaan perempuan dan anak mulai menyiapkan kegiatan sosialisasi. Program ini cukup sensitif karena menyangkut edukasi tentang kekerasan di sekolah. Kami sadar, materi seperti ini harus disampaikan dengan bahasa yang aman, tidak menakut-nakuti, tapi tetap tegas dan mudah dipahami anak. Kami mulai menyusun alur presentasi, menyiapkan PPT, dan menyusun cara penyampaian supaya tidak membosankan. Ada yang menyiapkan ide pembuka, ada yang menyiapkan contoh kasus sederhana yang relevan, dan ada juga yang merancang pertanyaan interaktif agar anak-anak berani merespons.
Supaya sesi sosialisasi terasa lebih dekat dan menyenangkan, kami menyiapkan hal-hal kecil yang bisa membantu suasana permen sebanyak 36 untuk ice breaking, serta stiker vote sebanyak 8 untuk aktivitas sederhana seperti kuis setuju/tidak setuju atau memilih jawaban. Yang menarik, kami juga mulai memikirkan langkah lanjutan berupa konten digital ide video pendek (VT) dan poster online. Kami ingin pesan edukasi tidak berhenti di ruang kelas saja, tapi bisa terus diingat dan dibagikan. Jadi Day 3 ini banyak diisi oleh persiapan “di balik layar”, tapi kami justru merasa persiapan seperti ini yang menentukan apakah kegiatan nanti berjalan baik atau tidak.
Di hari yang sama, tim sosialisasi dan pencegahan stunting juga bergerak menyiapkan materi dan kebutuhan pelaksanaan. Fokusnya adalah edukasi yang paling dekat dengan keluarga ASI dan MPASI, pola asuh, dan pola gizi seimbang. Kami ingin materi ini tidak terdengar seperti ceramah, tapi lebih seperti obrolan yang bisa dipraktikkan. Kami mendiskusikan bagaimana menyampaikan contoh porsi makan, kebiasaan minum air cukup, dan bagaimana memilih makanan bergizi dengan bahan yang mudah didapat.
Karena kegiatan stunting biasanya lebih nyaman kalau ada konsumsi pendamping, kami menyiapkan kebutuhan seperti air minum sebanyak 44, kue pasar 150, serta mika 21 (isi 100) untuk wadah. Semua ini kami siapkan agar acara lebih tertib, peserta nyaman, dan alur kegiatan berjalan rapi. Rasanya sederhana, tapi kami belajar bahwa program kesehatan seperti ini butuh dukungan teknis juga bukan hanya ide dan materi.
Terakhir, untuk program mitigasi bencana, Day 3 menjadi tahap awal pemetaan. Kami mulai membayangkan kebutuhan data wilayah mana yang rawan, akses jalur evakuasi, titik kumpul yang memungkinkan, serta kondisi lingkungan yang perlu dicatat. Belum sampai ke tahap finalisasi, tapi hari ini penting untuk membuka arah pemetaan tidak bisa asal, harus pelan-pelan dan akurat. Kami juga sepakat bahwa nanti kami perlu menguatkan ini dengan informasi dari warga atau perangkat setempat, karena merekalah yang paling tahu kondisi sehari-hari.
Menutup hari, rasanya capek tapi puas. Day 3 bukan hari yang penuh “acara besar”, tapi justru hari yang menegaskan bahwa KKN itu bukan cuma datang dan berkegiatan KKN adalah proses. Ada perencanaan, ada pembagian tugas, ada hitung-hitungan detail, ada persiapan materi, ada diskusi panjang, dan ada keputusan kecil yang nantinya menentukan sukses tidaknya program. Dari semua rangkaian hari ini, kami semakin yakin bahwa langkah kami di Kelurahan Segala Mider, Kecamatan Tanjung Karang Barat, Kota Bandar Lampung mulai menemukan bentuk. Dan kami siap melanjutkan ke hari berikutnya dengan eksekusi yang lebih matang, lebih terarah, dan semoga lebih berdampak.
