Natar, 9 Januari 2026
Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Merak Batin 1 hari Jumat 9 Januari 2026 pukul 09.00 diawali dengan pelaksanaan social mapping sebagai langkah strategis untuk memetakan potensi sumber daya, memahami karakter sosial masyarakat, serta menyusun program kerja yang berbasis kebutuhan nyata warga. Kegiatan ini menjadi yang penting sebelum mahasiswa melaksanakan berbagai program pengabdian selama masa KKN berlangsung.
Social mapping dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, serta interaksi langsung dengan warga di lingkungan Desa Merak Batin 1. Melalui pendekatan ini, mahasiswa KKN berupaya mengidentifikasi kondisi sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, hingga potensi alam yang dimiliki desa. Selain itu, pemetaan juga mencakup permasalahan dan tantangan yang dihadapi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Desa Merak Batin 1 menyambut baik kegiatan social mapping ini karena dinilai mampu membuka ruang dialog antara mahasiswa KKN dan warga. Melalui komunikasi yang terjalin, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi, harapan, serta masukan terkait pembangunan desa. Hasil dari kegiatan social mapping ini selanjutnya akan menjadi dasar dalam penyusunan dan pelaksanaan program kerja KKN yang diharapkan dapat memberikan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Desa Merak Batin 1.
Kegiatan selanjutnya untuk jam 19.30 melakukan sharing-sharing bersama Muli Meghanai Desa Merak Batin 1 menyampaikan permasalahan di Desa Merak Batin 1, memberikan informasi tentang Desa Merak Batin 1, mempererat hubungan silaturahmi antar KKN dengan Muli Meghanai, serta memberikan solusi dalam memecahkan permasalahan.
Muli Menghanai sebagai simbol generasi muda Lampung yang menjunjung tinggi nilai adat, etika, dan budaya lokal. Muli melambangkan sosok perempuan Lampung yang anggun, santun, cerdas, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi, sedangkan Menghanai menggambarkan pemuda Lampung yang berwibawa, bertanggung jawab, berjiwa kepemimpinan, dan menjunjung nilai-nilai adat istiadat. Keduanya menjadi generasi penerus yang diharapkan mampu menjaga identitas budaya Lampung di tengah arus modernisasi.
