Sumber Agung , Kamis 17 Juli 2025– Sebagai bagian dari rangkaian awal kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Lampung yang ditempatkan di Kelurahan Sumber Agung, Kecamatan Kemiling, Kota Bandar Lampung, melakukan survei langsung ke tiga lingkungan pada Kamis, 17 Juli 2025. Survei ini menjadi langkah awal pemetaan sosial dan lingkungan yang bertujuan untuk merancang program kerja yang tepat sasaran, berbasis kebutuhan warga.
Kelurahan Sumber Agung terdiri dari 22 Rukun Tetangga (RT) yang terbagi dalam tiga lingkungan, masing-masing dikoordinasikan oleh kepala lingkungan. Dalam kunjungan ini, mahasiswa KKN berkesempatan menemui langsung Pak Sardi (Kepala Lingkungan 1), Pak Rustadi (Kepala Lingkungan 2), dan Pak Imron (Kepala Lingkungan 3) untuk menggali informasi dan potret aktual wilayah setempat.

Dengan total 9 RT, Lingkungan 1 merupakan kawasan yang sebagian berada di dekat perbukitan (terutama RT 8). Kopi menjadi komoditas unggulan di sini. Menurut Pak Sardi, masyarakat lokal terbiasa menimbun kopi terlebih dahulu untuk menghasilkan rasa yang lebih nikmat. Namun, perubahan penggunaan lahan yang masif membuat ruang tanam kian menyempit, dan sampai hari ini belum terdapat Ruang Terbuka Hijau (RTH) di lingkungan tersebut.
Persoalan lingkungan juga muncul dalam bentuk pembuangan sampah di pinggir hutan. “Sebagian warga memang membuang sampah sembarangan. Tapi ada juga pemulung yang mengambilnya,” ungkap Pak Murito. Selain itu, limbah kopi dari hasil panen biasa dimanfaatkan warga sebagai pakan ternak, khususnya untuk sapi.

Lingkungan 2 terdiri dari 8 RT, dan memiliki kehidupan sosial yang dinamis. Ada kelompok tani wanita, karang taruna aktif yang dipimpin oleh Kang Ubay dan Kang Darma, serta komunitas pemandu wisata lokal (Pokdarwis). Warga juga rutin mengadakan pengajian malam Jumat, serta kegiatan senam bersama ibu-ibu yang dikoordinasi oleh Ibu Handayani dekat kantor kelurahan.
Namun di balik itu, permasalahan sampah juga muncul. Sistem pengangkutan dilakukan oleh sokli dengan tarif Rp15.000, tetapi partisipasi warga dalam kerja bakti sangat minim. “Kebanyakan masih mengandalkan RT atau pamong. Kalau diajak gotong royong susah, tapi kalau kumpul, bisa,” jelas Pak Rustadi, Kepala Lingkungan 2. Sampah rumah tangga sebagian besar masih dibakar, yang tentu menimbulkan risiko pencemaran udara.
Lingkungan ini juga memiliki kekuatan sosial dari tokoh-tokoh perempuan, seperti Bu Suryatin di RT 08 yang aktif dalam PKK dan Posyandu.

Lingkungan 3 menaungi 5 RT dan memiliki sekitar 600 kepala keluarga atau sekitar 1.500 jiwa. Komposisi penduduknya cukup beragam: PNS, TNI, kuli, petani, dan buruh, dengan buruh menjadi profesi dominan. Pada wilayah ini terdapat beberapa sampah di pinggir jalan, meskipun pengangkutan sudah dibantu sokli karena kendaraan seperti tosa bisa masuk.
Namun, kerja bakti sangat jarang dilakukan. “Karena sudah ada sokling dan RT diberi honor, warga jadi jarang gotong royong,” jelas Pak Imron. Gotong royong biasanya hanya dilakukan di jalan utama atau saat acara besar.
Di lingkungan ini juga terdapat peluang ekonomi lokal. Seorang pengusaha dari Bandung menjalankan usaha makanan ringan (basreng) dengan pemberdayaan ibu-ibu. Produk tersebut dipasarkan dalam kemasan ekonomis dan mampu menghasilkan omzet per pak yang cukup menjanjikan. Namun, persoalan seperti akses sinyal yang lemah serta kawasan perumahan di batu-batu menjadi tantangan tersendiri.
Hasil survei yang dilakukan memperlihatkan bahwa persoalan sampah menjadi isu lintas-lingkungan, dengan berbagai penyebab: kurangnya kesadaran warga, sistem sokli yang belum merata, hingga minimnya budaya kerja bakti. Ruang terbuka hijau (RTH) pun belum tersedia untuk umum, karena RTH yang tersedia bersifat berbayar dan merupakan tempat wisata terutama di wilayah yang memiliki tekanan urbanisasi tinggi.
Namun dibalik tantangan tersebut, terdapat modal sosial kuat dalam bentuk komunitas, tokoh lokal aktif, serta potensi ekonomi yang dapat dikembangkan.

Semangatt