
Pada hari Selasa, 03 Februari 2026, Mahasiswa KKN UNILA PERIODE I telah melaksanakan kegiatan kunjungan ke salah satu UMKM bidang kuliner yang memproduksi aneka kue kering dan kue basah, sekaligus kegiatan pendampingan pembuatan website UMKM sebagai media promosi dan pemasaran digital. Kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi terkait proses produksi, jenis produk, serta kendala usaha, sekaligus membantu pelaku UMKM dalam memperluas jangkauan pemasaran melalui pemanfaatan teknologi digital.
Kegiatan diawali dengan sesi wawancara bersama pemilik UMKM untuk mengetahui profil usaha dan sistem produksi yang dijalankan. UMKM ini telah berdiri sejak tahun 2017 dan pada awalnya memasarkan produk secara daring melalui aplikasi WhatsApp serta pemasaran langsung ke lingkungan gereja, khususnya pada momen perayaan Natal. Hingga tahun 2025, usaha ini terus berjalan dan melibatkan enam orang pekerja dalam proses produksinya.
Dalam pemaparan pemilik UMKM, dijelaskan bahwa kapasitas produksi disesuaikan dengan permintaan. Untuk produk akar kelapa, jumlah produksi maksimal sekitar 15 kg pada hari biasa atau di luar momen hari raya. Sementara itu, produk nastar memiliki tingkat penjualan tertinggi pada saat Hari Raya Idul Fitri dan umumnya diproduksi berdasarkan sistem pemesanan, di mana produksi baru dilakukan ketika terdapat pesanan. Dalam satu hari, UMKM ini mampu memproduksi sekitar 3 kg adonan hingga 6 kg adonan, yang setelah diproses dapat menghasilkan kurang lebih 15 kg produk jadi.

UMKM ini memproduksi dan menjual berbagai jenis kue, antara lain tusuk gigi (yang telah memiliki logo), putri salju, kue mawar, nastar, akar kelapa, bola sagu keju, almond stick, stick keju, serta kue brownies yang biasanya dititipkan di warung sekitar. Produk kue kering dijual dengan harga bervariasi, seperti putri salju dan akar kelapa dengan harga sekitar Rp80.000 per kilogram, serta nastar dengan harga sekitar Rp100.000 per kilogram atau Rp55.000 per toples. Seluruh produk kue kering diproduksi tanpa bahan pengawet sehingga memiliki masa ketahanan sekitar 2–3 bulan.
Dari sisi pemasaran, produk UMKM ini masih berfokus pada wilayah lokal dan belum mampu melakukan pengiriman ke luar pulau. Sebelumnya, produk akar kelapa sempat dipasarkan hingga ke Palembang, namun saat ini pemasaran kembali difokuskan di wilayah sekitar. Kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan dalam distribusi dan jangkauan pemasaran. Pemilik UMKM juga menyampaikan latar belakang pendidikan di bidang akuntansi, namun memilih menekuni usaha kuliner sebagai bentuk pengembangan potensi dan kemandirian usaha.
Kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan pembuatan website UMKM yang memuat profil usaha, daftar produk, harga, serta kontak pemesanan. Website ini diharapkan dapat menjadi sarana promosi yang lebih profesional dan membantu meningkatkan visibilitas UMKM agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.
Kegiatan kunjungan dan pendampingan pembuatan website UMKM ini berjalan dengan lancar. Diharapkan dengan adanya website UMKM, usaha kue rumahan ini dapat berkembang lebih optimal, meningkatkan daya saing produk, serta memperluas peluang pemasaran di masa mendatang.
