Teluk Betung Barat, 13 Januari 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung Kelompok 2 Negeri Olok Gading melaksanakan kegiatan pendataan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) emping yang berada di wilayah Kelurahan Negeri Olok Gading. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari program kerja bidang UMKM guna menggali potensi ekonomi lokal serta mendukung pengembangan usaha masyarakat setempat.
UMKM emping yang didata merupakan usaha milik Ibu Mahmur, istri dari Hasan Basri, yang telah menjalankan usaha tersebut selama kurang lebih 30 tahun. Usaha emping ini dikenal sebagai salah satu UMKM berskala besar di Negeri Olok Gading dan menjadi sumber mata pencaharian bagi beberapa warga sekitar.
Dalam proses produksinya, pembuatan emping dilakukan secara tradisional dan dimulai sejak waktu subuh. Proses pengeringan emping sangat bergantung pada kondisi cuaca. Jika cuaca panas, emping dapat kering dalam waktu sekitar tiga jam, sedangkan dalam kondisi penyimpanan yang baik, emping kering dapat bertahan hingga tiga bulan. Para pekerja yang terlibat dalam produksi biasanya membawa peralatan kerja masing-masing.
UMKM emping milik Ibu Mahmur saat ini mempekerjakan empat orang karyawan. Dari satu kilogram bahan mentah berupa tangkil, dihasilkan sekitar setengah kilogram emping siap jual. Bahan baku diperoleh dari pemasok tetap yang telah bekerja sama dalam jangka waktu lama dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram. Sementara itu, biaya upah produksi berada di kisaran Rp14.000 per kilogram.

Emping yang telah diproduksi dipasarkan dengan harga Rp80.000 per kilogram. Sistem pemasaran dilakukan melalui penjualan langsung kepada pelanggan tetap di sekitar rumah produksi, serta melalui pengiriman paket ke luar daerah. Pengiriman biasanya dilakukan melalui Rajabasa dan diteruskan ke pool pengiriman. Selain itu, pemasaran juga memanfaatkan media komunikasi digital seperti WhatsApp dan Instagram, meskipun usaha ini belum terdaftar di platform e-commerce seperti Shopee.
Saat ini, produk emping tersebut belum menggunakan label kemasan khusus. Namun, UMKM ini telah memiliki izin halal, yang menjadi nilai tambah serta potensi besar untuk pengembangan usaha ke depannya, khususnya dalam aspek branding, pengemasan, dan perluasan pasar.
Keberhasilan usaha emping ini tidak hanya berdampak pada perekonomian keluarga, tetapi juga menjadi contoh UMKM yang mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Ibu Mahmur diketahui telah menunaikan ibadah umrah sebanyak dua kali, satu kali melalui program dari Wali Kota Bandar Lampung dan satu kali lainnya dari hasil usaha emping yang dijalankannya. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai istri dari Ketua RT setempat, sehingga memiliki peran sosial yang cukup kuat di lingkungan masyarakat.
Melalui kegiatan pendataan UMKM ini, mahasiswa KKN Kelompok 2 Negeri Olok Gading berharap dapat memperoleh data yang akurat mengenai kondisi dan kebutuhan pelaku UMKM. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan program kerja lanjutan, seperti digitalisasi pemasaran, pembuatan label produk, serta peningkatan daya saing UMKM lokal agar mampu berkembang secara berkelanjutan.
