Teluk Betung Barat, Rabu, 14 Januari 2026 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Lampung Kelompok 2 Negeri Olok Gading melakukan peninjauan langsung ke lokasi rawan longsor dan banjir di kawasan Jalan Sunda, Kampung Serpung, Lingkungan 01, Kelurahan Negeri Olok Gading, pada Rabu (14/1/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari pengumpulan data lapangan untuk mendukung program mitigasi bencana.
Berdasarkan informasi yang diperoleh di lapangan, longsor terakhir terjadi pada tahun 2024. Namun, peristiwa tersebut bukan disebabkan oleh faktor alam, melainkan akibat aktivitas pembangunan di sekitar kawasan tersebut. Meski demikian, keberadaan pepohonan di area lereng dinilai cukup membantu sebagai penahan alami longsor.
Menurut keterangan warga, longsor juga pernah terjadi pada era 1970-an dengan ketinggian lokasi mencapai sekitar 600 meter. Tanah di kawasan tersebut didominasi oleh tanah cadas, sehingga saat hujan deras yang terlihat mengalir bukan hanya tanah, melainkan air yang membawa material tanah bersamaan.

Lahan di kawasan rawan longsor tersebut sebagian besar merupakan milik perusahaan, di antaranya Citra Garden, PT Bangunan Gaya Modern (BGM), Asenda, dan Bukit Asri, dengan luas kepemilikan terbesar mencapai sekitar lima hektare. Lahan tersebut biasanya ditanami pisang dan bambu oleh warga sekitar dengan izin pemilik tanah. Tanaman bambu dimanfaatkan sebagai penyangga alami untuk mencegah pergerakan tanah.
Selain longsor, kawasan ini juga kerap mengalami banjir akibat meluapnya aliran Kali Besar.
Banjir dilaporkan terjadi hampir setiap tahun, dengan puncaknya pada bulan Desember. Pak Sudrajat atau Ajat, selaku Ketua RT 03 setempat, menjelaskan bahwa banjir merupakan kejadian rutin tahunan. “Biasanya banjir datang setahun sekali, dan tahun ini mulai terjadi sejak bulan Desember,” ujarnya.
Aliran sungai yang terdampak dikenal sebagai Sungai Serpung, dengan bendungan bernama PLT yang merupakan milik PLTD. Selain faktor debit air dari bendungan, sampah rumah tangga juga menjadi penyebab utama terhambatnya aliran air. Volume air yang meluap dinilai terlalu besar, sementara pintu pembuangan air di bendungan relatif kecil sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras.
Wilayah terdampak banjir tercatat sejak tahun 1986 dana batas luapan air dapat mencapai wilayah Cungkeng. Pada tahun 2024, ketinggian banjir bahkan sempat mencapai dada orang dewasa dan merendam sejumlah rumah warga di sekitar wilayah RT setempat.

Melalui kegiatan peninjauan ini, mahasiswa KKN Kelompok 2 Negeri Olok Gading berharap dapat memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi lingkungan dan risiko bencana di wilayah tersebut. Data yang dihimpun akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan program kerja mitigasi bencana, khususnya terkait pencegahan longsor dan pengendalian banjir yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat.
