Jumat, 31 Januari 2026. – Pada hari Jumat, 31 Januari 2026, tim KKN Universitas Lampung melaksanakan kegiatan pengambilan video untuk pembuatan dokumenter cagar budaya Kelurahan Kedamaian dengan melibatkan talent Muli Mekhanai sebagai representasi generasi muda dalam memperkenalkan dan melestarikan warisan budaya lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan konten visual yang edukatif, estetis, dan berdaya tarik tinggi sebagai media promosi budaya Kelurahan Kedamaian kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Kegiatan diawali pada pukul 09.30 WIB dengan persiapan dan perjalanan menuju lokasi pengambilan gambar. Tim bergerak dari posko menuju titik lokasi syuting hingga pukul 10.00 WIB, kemudian dilanjutkan dengan proses penentuan lokasi dan persiapan teknis seperti pengecekan kamera, serta penyesuaian posisi talent hingga pukul 10.30 WIB. Peralatan pendukung berupa masker, lap, dan alat kebersihan turut dipersiapkan untuk menjaga kualitas produksi dan kebersihan lokasi.
Pengambilan gambar pertama dilakukan di Gapura Kelurahan Kedamaian pada pukul 10.30–11.00 WIB sebagai simbol pintu masuk wilayah dan identitas budaya masyarakat setempat. Talent Muli Mekhanai membawakan narasi pembuka yang menggambarkan makna Kelurahan Kedamaian sebagai ruang hidup sejarah dan kebudayaan.
Selanjutnya, pada pukul 11.00–12.00 WIB, kegiatan dilanjutkan di lokasi tapis dan Rumah Putih, dengan fokus pengambilan video pada kain tapis sebagai warisan budaya Lampung serta Rumah Putih sebagai bangunan bersejarah yang mencerminkan perjalanan sosial masyarakat Kedamaian dari masa ke masa.
Pada pukul 12.00–13.00 WIB, seluruh tim melaksanakan ISHOMA di posko untuk memulihkan stamina sekaligus melakukan evaluasi singkat hasil pengambilan gambar. Setelah itu, mulai pukul 13.00–15.00 WIB, proses produksi dilanjutkan di Lamban Gedung/Jajar Intan, yang merupakan ikon arsitektur tradisional dan pusat aktivitas budaya masyarakat Kelurahan Kedamaian. Pada sesi ini, pengambilan video diarahkan untuk menonjolkan nilai historis bangunan, filosofi ruang, serta peran lamban gedung dalam menjaga kesinambungan adat dan tradisi.
Secara paralel pada waktu yang sama, tim Lala, Hanna, Widya, Aji, dan Rahid melaksanakan kegiatan bersih-bersih sanggar sebagai bentuk kepedulian terhadap ruang budaya yang digunakan sebagai lokasi dokumentasi. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan alat kebersihan yang telah dipersiapkan sebelumnya, sehingga area tetap rapi, nyaman, dan layak digunakan sebagai latar produksi visual.
Menjelang akhir kegiatan, proses dokumentasi ditutup dengan sesi ISHOMA di posko sebagai bagian dari rangkaian akhir produksi. Selain itu, juga dilakukan pengambilan beberapa adegan transisi yang menampilkan anggota tim seperti Imel, Caca, dan Kiya yang menggunakan telepon genggam, untuk menggambarkan dinamika generasi muda dalam mendokumentasikan dan mempromosikan budaya melalui media digital.
Secara keseluruhan, kegiatan berjalan dengan tertib, kolaboratif, dan produktif. Hasil rekaman yang diperoleh diharapkan dapat dirangkai menjadi sebuah dokumenter cagar budaya yang informatif, menarik, dan mampu menumbuhkan rasa bangga serta kepedulian masyarakat terhadap warisan budaya Kelurahan Kedamaian.
