
BANDAR LAMPUNG, 01 Februari 2026– Masalah pengelolaan sampah di wilayah Campang Raya kini menemui titik terang. Menghadapi keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan dampak negatif dari pembakaran sampah konvensional, masyarakat setempat mulai diperkenalkan dengan solusi teknologi tepat guna: Rocket Stove (Kompor Roket).
Teknologi ini hadir bukan sekadar sebagai alat masak, melainkan sebagai solusi atas keluhan asap tebal yang selama ini mengganggu kesehatan warga akibat pembakaran sampah yang tidak teratur di area pemukiman.
Mengapa Harus Rocket Stove?
Berbeda dengan tungku tradisional atau pembakaran terbuka di lahan kosong, Rocket Stove dirancang dengan sistem isolasi dan aliran udara yang efisien. Keunggulan utamanya meliputi:
- Minim Asap: Pembakaran terjadi secara sempurna di dalam ruang bakar, sehingga polusi udara berkurang drastis.
- Efisiensi Bahan Bakar: Hanya membutuhkan sedikit kayu kering atau limbah organik padat untuk menghasilkan panas tinggi.
- Ramah Lingkungan: Menjadi solusi alternatif saat sistem pengangkutan sampah ke TPA mengalami kendala atau penumpukan.
Agar manfaatnya maksimal, berikut adalah petunjuk singkat penggunaan Rocket Stove yang kini siap digunakan oleh warga Campang Raya:
- Persiapan Bahan: Gunakan potongan kayu kecil, ranting kering, atau limbah padat organik. Pastikan bahan dalam kondisi kering untuk meminimalisir sisa karbon.
- Penyulutan Awal: Masukkan pemantik (kertas atau daun kering) ke dalam lubang pembakaran bawah.
- Pengaturan Aliran Udara: Biarkan ruang udara di bagian bawah tetap terbuka. Desain vertikal kompor akan menarik oksigen secara alami (efek cerobong), menciptakan api yang fokus dan panas.
- Pemeliharaan: Setelah digunakan, pastikan sisa abu dibersihkan secara berkala agar aliran udara tetap lancar untuk penggunaan berikutnya.
“Kami berharap dengan adanya Rocket Stove ini, warga tidak lagi membakar sampah sembarangan yang asapnya masuk ke rumah-rumah. Ini adalah langkah kecil menuju Campang Raya yang lebih bersih dan sehat,” ujar salah satu koordinator lapangan program tersebut.
Dengan adanya inovasi ini, diharapkan ketergantungan masyarakat terhadap pembuangan sampah akhir yang belum memadai dapat berkurang, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kualitas udara di lingkungan sendiri.
