Jumat, 24 Juli 2026, menjadi hari yang penuh warna bagi tim KKN Universitas Lampung di Desa Rajabasa. Hari ini dimulai dengan ritme yang disiplin; setelah menunaikan shalat subuh dan merapikan posko, tim segera memulai hari dengan agenda domestik yang terorganisir. Sejak pagi buta, suasana posko sudah hangat dengan aktivitas memasak bersama dan sarapan pagi, sebuah rutinitas yang selalu menjadi momen perekat kebersamaan sebelum terjun ke lapangan.

Setelah matahari mulai meninggi, semangat kolaborasi benar-benar diuji saat tim KKN bergerak menuju Dusun 3. Di sana, mahasiswa membaur dengan masyarakat setempat dalam kegiatan gotong royong mingguan. Bahu-membahu dengan warga, tim KKN terlibat aktif dalam membersihkan lingkungan, memperbaiki akses jalan, serta merapikan fasilitas umum. Tidak sekadar bekerja fisik, momen ini dimanfaatkan mahasiswa untuk berbincang akrab, mendengarkan cerita keseharian warga, dan menyerap kearifan lokal yang ada di Dusun 3.

Kegiatan gotong royong sempat terjeda sejenak untuk beristirahat di tengah hari, namun suasana di lapangan justru semakin bersemangat dengan kedatangan DPL, Bapak Joni Putra. Kunjungan singkat beliau di Dusun 3 memberikan suntikan moral yang luar biasa. Bapak Joni menyempatkan diri berdialog langsung dengan mahasiswa, memberikan arahan strategis, serta mengapresiasi progres program kerja yang telah berjalan. Dukungan langsung dari DPL ini menjadi bahan bakar tambahan bagi tim untuk menuntaskan pekerjaan gotong royong hingga menjelang siang sebelum akhirnya berpamitan untuk kembali ke posko.

Setelah sesi Ishoma dan santap siang yang sederhana, fokus kegiatan bergeser pada aspek spiritual dan sosial. Tim KKN kemudian bergerak menuju Masjid At-Taqwa di Dusun 3 Ujau untuk menghadiri pengajian rutin Aisyiyah ranting Rajabasa. Kehadiran mahasiswa di tengah ibu-ibu pengajian tidak hanya sebagai partisipan, tetapi juga bentuk penghormatan dan usaha nyata untuk melebur dalam tradisi religius desa. Tim KKN mengikuti rangkaian pengajian dengan khidmat, sebuah pengalaman yang mendalam bagi para mahasiswa untuk melihat sisi religiusitas masyarakat Rajabasa yang begitu kental.
Hari yang padat ini diakhiri dengan perjalanan pulang ke posko saat sore menjelang, diikuti dengan rutinitas sore yang meliputi ibadah, bersih diri, dan evaluasi internal. Meskipun lelah, refleksi yang dilakukan di malam hari memastikan bahwa seluruh anggota tim tetap satu frekuensi dalam mengevaluasi setiap progres. Hari ini membuktikan bahwa pengabdian tidak hanya soal menyelesaikan target fisik, tetapi tentang bagaimana mahasiswa dapat hadir, mendengarkan, dan menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Desa Rajabasa.
